Prinsip & Cara Kerja Relay

Relay adalah sakelar kontak yang dioperasikan secara elektronik. Secara umum relay menggunakan pemicu berupa tegangan listrik untuk menggerakkan kontak secara mekanis menggunakan coil, namun beberapa jenis relay menggunakan silicon seperti pada solid-state relay. Namun keduanya memiliki prinsip kerja yang sama persis.

Relay digunakan saat diperlukan untuk mengontrol kontak menggunakan daya rendah. Kontak relay bisa digunakan untuk menggerakkan device lain yang berdaya tinggi maupun berdaya rendah pula. Relay pertama kali diaplikasikan pada sirkuit telegraf jarak jauh sebagai penguat sinyal (repeater). Relay-relay tersebut menerima sinyal dari sumber yang sudah mulai lemah dan menyalurkan ke sirkuit tujuan dengan tegangan baru yang lebih tinggi. Aplikasi relay terus berkembang hingga pada masa komputasi sinyal, relay digunakan untuk melakukan perhitungan digital pada mesin komputasi di awal masa. Ini menjadi cikal bakal operasi logika pada komputer.

Di pasaran, relay yang digunakan untuk mengontrol tegangan jala-jala (110-380 VAC) disebut kontaktor. Namun sebaiknya kita membedakan kedua part tersebut karena aplikasinya memang berbeda meskipun prinsip dan cara kerja relay dan kontaktor adalah sama persis.

Bagian-Bagian Relay

Bagian utama relay adalah coil. Coil berupa kuparan dengan as carbon (yoke) yang berguna untuk merubah energi listik menjadi energi magnet. Energi magnet inilah yang menggerakkan tuas armature dan merubah kondisi kontak.

 

Bagian kedua adalah kontak. Pada umumnya relay memiliki 2 kontak NO dan NC. Baca tentang NO dan NC disini. Pada saat relay tidak disupply tegangan maka kontak NC menyambung dan kontak NO terbuka, saat tegangan masuk ke coil relay maka kondisinya berkebalikan, kontak NO menyambung dan kontak NC membuka.

Bagian ketiga adalah tuas armature. Tuas ini terdiri atas logam dengan kandungan besi tang berada tepat diatas yoke sehingga saat yoke menjadi magnet maka tuas tertarik ke bawah lalu menekan kontak.

Relay yang ada di pasaran

Banyak sekali merk dan jenis relay yang ada di pasaran namun ada beberapa merk yang paling sering kita jumpai di pasaran seperti OMRON, Schnider, Siemens dan BOSCH. Merk-merk ini selain memiliki relay yang bentuknya khas namun juga mensupply relay dengan bentuk dan ukuran yang sifatnya umum.

Saya akan membahas relay yang sifatnya umum karena paling sering kita jumpai di panel-panel. Berikut gambarnya:

Ini adalah gambar relay yang paling umum ditemukan, bentuknya sama untuk OMRON, Siemens, Schnider dan BOSCH. Pada Omron, tegangan coil tertulis pada bungkus coil. Warna merah untuk AC, Warna hitam untuk DC. Tegangan coil yang paling umum adalah 24VAC, 24VDC, 110VAC, 220VAC. Untuk relay 24VDC jika rusak bisa diganti dengan relay 24VAC karena pada coil 24VAC dilengkapi dengan dioda penyearah pada coilnya.

Ini adalah Relay Schnider Type RXM4AB2, persamaannya Omron MY4. Angka 4 menunjukkan jumlah kontak 4 buah. Jika dilihat di gambar sebelah kanan, 2 terminal dibawah adalah coil. Anda bisa cek koil bagus atau tidak dengan ohmmeter, jika menyambung berarti bagus dan jika tidak berarti coil putus. 4 Baris diatas adalah kontak yang masing-masing kontak terdiri atas NO dan NC.

Untuk relay jenis ini, antar merk bisa saling menggantikan asal jumlah kontak sama dan tegangan coil sama karena ukuran socket sama. Gambar socket ada dibawah ini:

Type paling banyak di pasaran adalah yang 2 kontak (Omron: MY2) dan 4 kontak (Omron MY4).  Karena bisa saling menggantikan, anda tinggal cek tegangan coil, jika sama dan jumlah kaki sama maka antar merk bisa saling menggantikan.

Demikian bahasan kita kali ini tentang relay, lain kali kita sharing part-part listrik yang berbeda. Jika ada pertanyaan, silakan tinggalkan di comment.